Beatifikasi Francis Xavier Truong Buu Diep, Umat Katolik Vietnam Diimbau Menjadi "Pembawa Pesan Kebenaran"

Cardinal Luis Antonio Tagle
Cardinal Luis Antonio Tagle

Kardinal Luis Antonio Tagle mengimbau umat Katolik Vietnam untuk menjadi "pembawa pesan kebenaran" pada tanggal 2 Juli, saat Gereja merayakan beatifikasi (proses menyatakan seseorang sebagai orang kudus/beato) Romo Francis Xavier Truong Buu Diep. Ini merupakan upacara beatifikasi pertama yang pernah diselenggarakan langsung di wilayah Vietnam.

Perayaan bersejarah yang berlangsung di Pusat Ziarah Tac Say di Delta Mekong, Vietnam ini, berhasil menarik lebih dari 70.000 peziarah yang hadir secara langsung, sementara 1 juta orang lainnya ikut menyaksikan melalui saluran YouTube Gereja. Kardinal Tagle, yang hadir sebagai utusan khusus Paus Leo XIV, memimpin Misa tersebut bersama 40 uskup dan sekitar 1.000 imam.

Pusat Ziarah Tac Say sendiri terletak di provinsi Ca Mau, bagian selatan Vietnam, tempat jenazah Beato Diep disemayamkan.

Pihak berwenang setempat bahkan sampai menutup jalan raya nasional yang melintasi pusat ziarah tersebut untuk menampung lautan manusia. Banyak dari mereka yang rela tidur beralaskan trotoar di sekitar tempat suci itu sejak malam sebelumnya. Bendera Vatikan dan Vietnam tampak berkibar di sepanjang rute, bersanding dengan gambar-gambar sang romo yang baru saja dibeatifikasi.

Kardinal Tagle, yang menjabat sebagai pro-prefek di Dikasteri untuk Penginjilan Vatikan, menyampaikan bahwa kisah hidup Beato Diep memberikan kesaksian yang sangat tepat waktu di tengah dunia yang kian diselimuti oleh kepalsuan.

"Saya berharap Beato Francis Xavier bisa menginspirasi tidak hanya umat Katolik Vietnam, tetapi juga banyak orang lain untuk kembali kepada kebenaran Yesus Kristus," ungkapnya dalam sebuah wawancara yang dimuat di situs web Konferensi Waligereja Vietnam sebelum acara beatifikasi. Ia juga menambahkan bahwa "menjadi martir berarti memberikan kesaksian tentang kebenaran Yesus."

"Hari ini, ada terlalu banyak pembawa pesan bohong dan berita palsu (hoax), hingga kita tidak tahu lagi mana yang benar. Karena itu, kita membutuhkan pembawa pesan kebenaran," tegas Kardinal Tagle.

Sang kardinal menjelaskan bahwa Beato Diep menyuarakan kebenaran tersebut tidak hanya lewat khotbahnya, tetapi terutama melalui pelayanan pastoralnya bagi orang-orang miskin serta keteguhannya untuk tetap tinggal mendampingi umatnya meski di tengah bahaya besar.

"Bahkan di saat-saat genting, ia tidak meninggalkan kawanan dombanya (umatnya), melainkan memberikan kesaksian tentang kasih Yesus Kristus," kata Kardinal Tagle.

Ia menekankan bahwa devosi (penghormatan) yang tulus kepada Beato Diep maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar mengenang jasanya.

"Devosi sejati kepada Beato Francis Xavier berarti meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari melalui keadilan, amal kasih, bela rasa kepada kaum miskin, dan komitmen kepada Yesus — bukan hanya saat situasi sedang nyaman, tetapi juga ketika keadaan terasa sulit," ujarnya. "Mari jadikan devosi kepada Beato Francis Xavier sebagai jalan hidup."

Dalam khotbahnya, Kardinal Tagle mengatakan bahwa sang beato baru "mengajak kita semua untuk tidak menyangkal Yesus, melainkan menjadi saksi atau martir bagi kebenaran-Nya."

Ia mendorong umat Katolik untuk memilih kejujuran ketimbang korupsi meski harus hidup sederhana, membagikan apa yang mereka miliki kepada yang membutuhkan alih-alih menimbun kekayaan, dan "tetap bersatu" dengan Yesus "bahkan ketika situasi berbahaya, dan bukan hanya saat menguntungkan."

Kardinal Tagle juga mengungkapkan bahwa Takhta Suci memang menginginkan beatifikasi ini dirayakan langsung di Vietnam agar umat Katolik setempat bisa merasakan langsung makna penting dari peristiwa ini.

beatifikasi Romo Francis Xavier Truong Buu Diep
Suasana Misa beatifikasi Romo Francis Xavier Truong Buu Diep

Upacara ini menandai tonggak sejarah baru bagi Gereja di Vietnam. Sejak agama Kristen masuk ke negara tersebut hampir 500 tahun yang lalu, seluruh upacara beatifikasi martir Vietnam sebelumnya selalu digelar di Roma, termasuk beatifikasi Beato Andreas Phu-Yen pada tahun 2000. Sementara itu, Santo Yohanes Paulus II mengkanonisasi (menyatakan sebagai Kudus/Santo) 117 Martir Vietnam pada tahun 1988 di Roma.

Gereja telah menetapkan tanggal 12 Maret, yang merupakan hari peringatan wafatnya, sebagai hari peringatan liturgi untuk Beato Diep yang baru ini.

Uskup Agung Marek Zalewski, perwakilan kepausan untuk Vietnam, menyebut perayaan ini sebagai "rahmat khusus bagi Gereja semesta."

"Makna terbesar hari ini bukanlah sekadar Gereja memiliki beato yang baru," katanya. "Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa jalan menuju kekudusan tetap terbuka bagi setiap kita."

Uskup Peter Phan Tan Loi dari Can Tho menggambarkan beatifikasi ini sebagai "sebuah mukjizat," mengingat ratusan ribu orang, termasuk para penganut agama lain, datang untuk menghormati Beato Diep.

Berbicara kepada para peziarah non-Kristen, Uskup Loi menekankan bahwa Beato Diep adalah milik semua orang.

"Beliau adalah tempat bertemunya rasa welas asih," ujarnya. "Jutaan orang dari berbagai latar belakang dan agama berbeda yang menghormatinya bersama-sama adalah mukjizat besar dari keharmonisan dan persatuan."

Ia berharap Tac Say akan terus menjadi "rumah yang damai bagi semua orang," tempat semangat kasih tanpa batas dari Beato Diep dapat menginspirasi semua orang untuk saling peduli dan membantu mereka menemukan Tuhan.

Lahir pada tahun 1897 di provinsi An Giang, Diep ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1924. Ia melayani Paroki Tac Say dari tahun 1930 hingga akhir hayatnya, dan dikenal luas karena perhatiannya pada kaum miskin serta usahanya melindungi umat Katolik selama Perang Indochina Pertama.

Meski berkali-kali diminta untuk mengungsi demi keselamatan dirinya, ia menolak dan berkata, "Saya hidup di antara domba-domba saya, dan jika saya harus mati, saya akan mati di antara mereka." Berdasarkan penyelidikan Keuskupan Can Tho, ia dibunuh pada 12 Maret 1946 oleh dua orang tentara desersi Jepang. Penyelidikan tersebut juga menyimpulkan bahwa kematiannya tidak ada hubungannya dengan kelompok komunis, sekaligus meluruskan kesalahpahaman yang beredar selama berpuluh-puluh tahun.

Makamnya yang berada di Tac Say kini menjadi salah satu destinasi ziarah Katolik terbesar di Vietnam yang menarik jutaan pengunjung setiap tahunnya.

Di antara para peziarah, hadir Mary Nguyen Thi Lai yang menempuh perjalanan jauh dari provinsi Binh Thuan demi menghadiri acara ini.

"Upacara beatifikasi ini menyatukan orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat untuk menghormati Beato Diep, dan ini membawa masa depan yang cerah bagi umat Katolik setempat," katanya kepada OSV News.

"Kami berharap masyarakat lokal dapat mengikuti teladan Romo Diep dan bekerja sama demi kebaikan bersama."

Sumber: National Catholic Register

“Faith and reason are like two wings on which the human spirit rises to the contemplation of truth….” JP II