Umat Katolik di Asia Rayakan Tahun Baru Imlek
Iman dan budaya berpadu ketika komunitas Katolik di seluruh Asia menandai Tahun Baru Imlek melalui pertemuan keluarga, doa, dan tindakan amal.
Oleh Romo Mark Robin Destura, RCJDi banyak negara Asia, Tahun Baru Imlek yang berakar pada tradisi budaya Tionghoa dirayakan secara luas, termasuk oleh keluarga-keluarga Katolik yang tetap menghormati adat leluhur mereka.
Bagi Gereja, masa ini lebih dari sekadar perayaan budaya. Ini juga merupakan kesempatan pastoral untuk evangelisasi, ungkapan syukur, dan rekonsiliasi keluarga.
Melalui perspektif inkulturasi, Gereja memandang Tahun Baru Imlek sebagai momen ketika iman meresap secara mendalam ke dalam kehidupan masyarakat Asia.
Di seluruh kawasan, umat Katolik merayakan Tahun Baru melalui adat setempat, sambil menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupan keluarga dan komunitas.
Merayakan iman dan tradisi di Vietnam
Di Vietnam, persiapan Tahun Baru Imlek yang dikenal sebagai Tết dimulai segera setelah Natal. Keluarga mulai membuat makanan tradisional, khususnya bánh chưng (kue beras), menghias rumah, serta membersihkan makam leluhur.
Bagi umat Katolik, praktik ini dijalankan dengan fokus rohani untuk memulai tahun baru dengan kepercayaan yang diperbarui kepada Allah.
Pada malam Tahun Baru, banyak umat berkumpul di gereja untuk mengikuti Misa syukur khusus. Mereka bersyukur atas berkat sepanjang tahun yang lalu dan memperbarui komitmen kepada Tuhan untuk tahun yang akan datang.
Selama hari-hari pertama Tết, Misa dirayakan dengan intensi khusus:
-
Hari pertama didedikasikan untuk doa perdamaian.
-
Hari kedua dipersembahkan bagi kakek-nenek dan orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.
-
Hari ketiga dikhususkan untuk pengudusan pekerjaan, studi, dan usaha pribadi.
Gereja di Vietnam juga menekankan amal kasih di awal tahun. Banyak paroki mengunjungi orang miskin dan membagikan makanan, terutama kue beras tradisional, sebagai tanda solidaritas dan belas kasih Kristiani.
Bagi umat Katolik Vietnam, tindakan ini mencerminkan semangat sejati Tahun Baru: kebahagiaan yang berakar pada iman dan damai.
Keluarga dan doa di Thailand
Di Thailand, umat Katolik merayakan Tahun Baru Imlek dalam semangat serupa, berpusat pada reuni keluarga, mengenang orang yang telah meninggal, dan doa untuk masa depan.
Romo Peter Piyachart Makornkharnp, kepada LiCAS News, mengatakan, “Tahun Baru Imlek adalah kesempatan untuk memperdalam ikatan keluarga dan berdoa bagi tahun yang akan datang.”
Misa syukur khusus diadakan, di mana keluarga mempercayakan harapan dan rencana mereka kepada Allah.
Romo Peter juga mengingatkan umat bahwa praktik budaya yang selaras dengan ajaran Katolik dianjurkan, tetapi ritual takhayul sebaiknya dihindari.
Salah satu tradisi yang dikenal luas adalah pemberian amplop merah atau ang pao yang berisi uang.
“Pada akhir Misa Syukur, kami membagikan ‘ang pao’ tradisional kepada semua orang,” jelasnya. “Tindakan ini mengaitkan harapan sukacita tahun baru dengan amal kasih komunal Gereja.”
Melalui praktik ini, kemurahan hati materiil dihubungkan dengan persekutuan rohani dalam kehidupan komunitas.
Ekspresi budaya di Malaysia
Di Malaysia, gereja-gereja sering dihiasi lentera merah dan spanduk perayaan untuk menyambut Tahun Baru Imlek.
Banyak paroki merayakan Misa syukur pada hari pertama tahun baru. Namun, sebagian umat Katolik mungkin tidak menghadiri Misa karena mengikuti adat keluarga, seperti ritus penghormatan leluhur atau menyaksikan tarian singa tradisional.
Penghormatan kepada leluhur diterima secara luas oleh banyak umat Katolik sebagai ungkapan bakti kepada orang tua, selaras dengan perintah untuk menghormati ayah dan ibu. Bagi mereka, hal ini merupakan cara budaya untuk mengungkapkan rasa syukur dan kenangan.
Namun, sebagian lain menyatakan keberatan dan lebih memilih mendoakan arwah pada Hari Arwah Sedunia dan dalam perayaan Ekaristi.
Terlepas dari perbedaan pandangan ini, Tahun Baru Imlek di Malaysia tetap menjadi perayaan yang sangat berpusat pada keluarga, di mana iman terus dipupuk dan dikuatkan.
Musim syukur dan amal kasih
Di seluruh Asia, Tahun Baru Imlek tetap menjadi momen penting yang menyoroti arti keluarga, rasa syukur, dan kemurahan hati.
Melalui perayaan ini, Gereja memberi kesaksian bahwa Injil dapat dihidupi secara autentik dalam tradisi budaya yang telah berlangsung lama.
Dengan menghayati nilai hormat, solidaritas, dan doa, umat Katolik di Asia terus mengubah Tahun Baru Imlek menjadi musim iman, harapan, dan kasih — berakar pada tradisi dan diterangi oleh terang Kristus.*
Sumber: VaticanNews

Gabung dalam percakapan