Dipanggil untuk Diutus dan Bertumbuh Bersama: Kesaksian Efelina Samosir dan Fransiskus Loekman dalam Proses AsIPA


Proses pemberdayaan Fasilitator AsIPA Angkatan III di Paroki Regina Pacis Tanjung Pandan tidak hanya melahirkan para pelayan pastoral yang siap diutus, tetapi juga pribadi-pribadi yang semakin menyadari makna berjalan bersama sebagai Gereja partisipatif. Hal ini tercermin dalam kesaksian Efelina Paula Margaretha Samosir dan Fransiskus Loekman, dua calon fasilitator yang mengalami AsIPA sebagai perjalanan iman yang otentik dan transformatif.

Bagi Efelina, kurang lebih satu tahun tiga bulan mengikuti pemberdayaan AsIPA mengingatkannya pada cara Yesus mempersiapkan para murid-Nya: diajari, diajak mengalami, lalu diutus.

“Kami dipersiapkan, dibekali, diajak mengalami untuk kemudian diutus,” ungkapnya.

Namun, proses ini justru menumbuhkan kerendahan hati, bukan rasa paling mampu. Efelina menyadari bahwa kelulusan AsIPA bukan alasan untuk berbangga diri, melainkan kesadaran baru bahwa setiap orang saling membutuhkan.

“Apa yang tidak saya miliki ternyata ada dalam diri orang lain. Dari situlah kita bersinergi untuk mewujudkan Gereja yang partisipatif,” tuturnya.

Baginya, kata “lulus” justru berarti menerima tanggung jawab baru untuk menjadi “bara yang tetap menyala”, menghadirkan kehangatan dan nyala kehidupan bagi Gereja. Tantangan yang dihadapi selama proses pun ia maknai sebagai “minyak dalam buli-buli”—sumber daya rohani yang membuat para fasilitator terus siap sedia, saling menguatkan, dan mencari pendekatan yang relevan untuk hidup bersama dalam Komunitas Basis Gerejawi (KBG).

Sementara itu, Fransiskus Loekman, yang berperan sebagai koordinator bagi 31 peserta AsIPA Angkatan III, merasakan langsung kekuatan proses pembelajaran yang dijalani bersama.

“Saya sangat terkesan dengan pembelajaran modul AsIPA dari A hingga C8. Para peserta tetap semangat, meskipun ada tantangan seperti cuaca dan keterbatasan lainnya,” ungkapnya.

Melalui metode sharing Injil, Fransiskus mengaku semakin memahami Firman Tuhan dan menghayati makna Ekaristi secara lebih mendalam. Dampaknya terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari: relasi dalam keluarga, khususnya dengan pasangan, menjadi lebih baik; relasi dalam KBG St. Bernadette dan masyarakat sekitar pun semakin dilandasi pemahaman dan penghargaan terhadap perbedaan karakter setiap pribadi.

Salah satu nilai penting yang ia temukan dalam AsIPA adalah kesadaran akan kesetaraan.

“Dalam modul diajarkan untuk menjadi setara dengan teman sejawat, bukan sebagai atasan dan bawahan, atau guru murid” katanya.
Pengalaman sharing Injil juga meneguhkan pemahaman akan Gereja sebagai satu tubuh dengan banyak anggota, di mana setiap pribadi memiliki peran yang sama pentingnya.

Menjelang Pelantikan dan Penerimaan Salib Misi Fasilitator AsIPA Angkatan III, kesaksian Efelina dan Fransiskus menjadi cermin bahwa AsIPA bukan hanya membekali pengetahuan, tetapi membentuk sikap batin: rendah hati, siap diutus, dan setia berjalan bersama. Sebuah langkah konkret Paroki Regina Pacis dalam mewujudkan Gereja partisipatif—persekutuan komunitas yang hidup dan bermisi.

“Faith and reason are like two wings on which the human spirit rises to the contemplation of truth….” JP II