Belajar Menjadi Kecil: Sharing Fasilitator AsIPA Angkatan I di Tengah Pelantikan Angkatan III Paroki Tanjungpandan
![]() |
| Fasilitator AsIPA Angkatan I, Stefanus Harry Elektrik Eka Wijaya |
Momen Misa Pelantikan dan Penerimaan Salib Misi Fasilitator AsIPA Angkatan III Paroki Regina Pacis tidak hanya menjadi peristiwa perutusan bagi para fasilitator baru, tetapi juga ruang refleksi iman bagi para fasilitator lintas angkatan. Kehadiran fasilitator AsIPA Angkatan I dan II menegaskan bahwa AsIPA adalah proses pembentukan yang berkelanjutan dan berbuah nyata dalam kehidupan Komunitas Basis Gerejawi (KBG).
Salah satu fasilitator AsIPA Angkatan I, Stefanus Harry Elektrik Eka Wijaya, membagikan refleksi imannya yang memperkaya makna perayaan tersebut. Ia mengisahkan bahwa keputusannya mengikuti kembali lokakarya AsIPA di Belitung meski pernah mengikutinya pada tahun 2007 di Pangkalpinang, lahir dari kegelisahan rohani yang mendalam.
“Saya termotivasi mengikuti ulang lokakarya AsIPA karena ini adalah jawaban atas kegelisahan saya untuk mengembangkan iman tentang Kerajaan Allah, agar iman itu sungguh berbuah,” ungkapnya.
Bagi Stefanus, AsIPA membantunya memaknai kembali peran fasilitator dalam terang Injil Kerajaan Allah.
“Kerajaan Allah itu seperti biji sesawi yang paling kecil, tetapi ketika tumbuh, ia menjadi tempat berteduh dan memberi hidup bagi banyak orang. Itulah peran fasilitator: siap dibentuk, bahkan berkorban, agar banyak orang mendapat kehidupan. Fasilitator harus semakin kecil dan tidak kelihatan, supaya Tuhanlah yang semakin besar,” tuturnya.
Sebagai koordinator Angkatan I, Stefanus mengakui bahwa proses lokakarya bukanlah perjalanan yang mudah. Tantangan datang dari kesibukan, kelelahan, hingga kondisi cuaca yang kerap tidak mendukung. Namun komitmen untuk setia pada proses menjadi kunci utama.
“Kami dituntut untuk sungguh berkomitmen: terus hadir dan bertahan, atau dengan jujur mengundurkan diri. Ada juga sesi-sesi susulan untuk mengejar ketertinggalan. Semua itu membentuk disiplin, keteguhan, dan tanggung jawab,” jelasnya.
Buah dari proses AsIPA tersebut kini nyata dalam kehidupan KBG yang ia dampingi. Sebagai Ketua KBG, Stefanus merasakan bahwa wawasan, semangat, dan spiritualitas AsIPA telah membantu komunitasnya bertumbuh secara perlahan namun pasti.
“KBG kami terus berkembang seperti biji sesawi itu. Selama kami berpusat pada Tuhan, merawat komunio, dan mau bermisi, Tuhan selalu menyertai perjalanan KBG kami,” ujarnya.
Kesaksian ini menjadi peneguhan bagi para fasilitator AsIPA Angkatan III yang baru saja menerima Salib Misi. Perjalanan yang mereka mulai hari ini adalah kelanjutan dari proses panjang membangun Gereja yang hidup dari partisipasi umat, kesetiaan pada Sabda, dan keberanian untuk bermisi dalam kerendahan hati.* (Louis/costmust)

Gabung dalam percakapan