Belajar Mendengarkan dan Berjalan Bersama: Kesaksian Iman Giorgea Taure dalam Proses AsIPA

Giorgea Taure, calon fasilitator AsIPA

Menjelang Pelantikan dan Penerimaan Salib Misi Fasilitator AsIPA Angkatan III di Paroki Regina Pacis Tanjung Pandan, perjalanan iman para calon fasilitator menjadi kesaksian hidup tentang bagaimana Gereja partisipatif sungguh dihayati dalam keseharian. Salah satunya datang dari Giorgea Taure, calon fasilitator yang telah mengikuti proses AsIPA selama kurang lebih satu tahun tiga bulan.

Bagi Giorgea, AsIPA bukan sekadar rangkaian pertemuan atau materi pendalaman iman, melainkan sebuah perjalanan pembentukan batin yang mengubah cara ia memahami Kitab Suci, relasi komunitas, dan kepemimpinan.

“Proses AsIPA tidak hanya memperkaya pemahaman saya akan Sabda Tuhan, tetapi juga membentuk cara saya memandang diri, komunitas, dan peran kepemimpinan yang saya jalani,” ungkapnya.

Melalui dinamika sharing dalam komunitas, Giorgea belajar bahwa mendengarkan merupakan kunci utama kehidupan menggereja. Bukan hanya mendengarkan Sabda Tuhan, tetapi juga pengalaman hidup sesama.

“Dari proses berbagi yang sederhana, saya semakin menyadari bahwa karya Tuhan hadir dalam kisah-kisah kecil yang sering kali terlewatkan,” tuturnya.
Kesadaran ini perlahan mengubah cara ia memaknai perjumpaan dan kebersamaan, dari sekadar rutinitas menjadi ruang kehadiran Allah yang nyata.

Sebagai ketua komunitas, AsIPA menjadi tantangan sekaligus pembaruan. Ia diajak untuk meninggalkan pola kepemimpinan lama yang cenderung mengarahkan dan mengendalikan, lalu beralih pada kepemimpinan yang partisipatif.

“Saya belajar mempercayai proses dan memberi ruang bagi setiap anggota untuk bertumbuh sesuai dengan waktunya,” katanya.
Dari pengalaman itu, Giorgea menemukan cara baru memimpin: berjalan bersama, mendampingi dengan sabar, dan belajar bersama komunitas.

Ia tidak menutup mata bahwa perjalanan tersebut juga diwarnai dinamika, keterbatasan, dan kelelahan. Namun justru dalam situasi itulah, ia semakin menyadari makna sejati pemberdayaan.

“Saya belajar bersandar pada Tuhan dan memahami bahwa pemberdayaan sejati bukan hasil usaha pribadi semata, melainkan karya Roh Kudus yang bekerja dalam kebersamaan,” refleksinya.

Kini, menjelang penerimaan Salib Misi sebagai fasilitator AsIPA, Giorgea melihat proses ini sebagai awal dari tanggung jawab perutusan yang lebih dalam.

“Saya semakin yakin bahwa komunitas akan bertumbuh ketika setiap anggotanya dipercaya, didengarkan, dan diberi ruang untuk ambil bagian,” ujarnya.

Bagi Giorgea Taure, AsIPA bukanlah sebuah program yang berakhir pada kelulusan, melainkan proses pembentukan iman yang terus dihidupi, sejalan dengan panggilan Gereja untuk menjadi persekutuan komunitas yang berjalan bersama dalam misi.


“Faith and reason are like two wings on which the human spirit rises to the contemplation of truth….” JP II